HOME
Home » Sosok » Sosok (4) H. Johan Rosihan, S.T : Pejuang Kedaulatan Pangan

Sosok (4) H. Johan Rosihan, S.T : Pejuang Kedaulatan Pangan

Posted at October 4th, 2021 | Categorised in Sosok

Di Senayan, suaranya cukup kencang. Dialah H. Johan Rosihan, S.T atau yang akrab disapa dengan panggilan Bang Johan.  Lahir di Sumbawa, 29 Oktober 1972.  Mantan Ketua KAMMI Daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB) ini tak henti bersuara menyambung lidah rakyat, terutama dalam soal kedaulatan pangan. Rekam jejaknya bisa dengan mudah kita temukan di beragam media, baik televisi, media cetak maupun media online.

Di bulan Agustus 2021 misalnya, Presiden Jokowi dalam sebuah pidatonya mengklaim bahwa  pemerintah terus mengembangkan sektor pertanian untuk kemandirian pangan. Tapi realitas berbicara lain. Dari sisi dukungan anggaran sangat tidak memadai, karena nota APBN 2021 senilai Rp21,8 triliun terkena kebijakan refocusing hingga menjadi Rp15,5 triliun.

“Ini artinya pemerintah melakukan pemotongan Rp.6,3 triliun untuk kepentingan yang terkait urusan pangan. Tentunya bertolak belakang dengan semangat membangun kemandirian pangan,” sesal Johan dalam sebuah kesempatan. Wakil rakyat dari dapil NTB ini juga mengungkapkan dukungan pemerintah terhadap pangan patut dipertanyakan pada masa pandemi. Di mana kebijakan telah berdampak pada penurunan target produksi pangan nasional dan masih bergantung dengan impor pangan.

Suara demikian tak henti digaungkan…

Dilain kasus. Tentang RUU Cipta Kerja yang kemudian menjadi UU Cipta Kerja. Undang-Undang ini, dari namanya memang cukup bagus. Tapi isinya banyak kontroversi yang dinilai sangat tidak berpihak kepada publik (tidak pro rakyat).  Suami dari Wahidah ini juga tak ketinggalan  untuk berkomentar atas munculnya rancangan undang-undang tersebut. Salah satunya karena tidak pro kedaulatan pangan.

“Saya menilai karena dampak dari RUU omnibus law ini sangat serius terutama ancaman terhadap kedaulatan negara melalui pemberian kemudahan kepada pihak asing dan memuat pengaturan kelonggaran impor pangan yang berdampak merugikan petani maka secara tegas kami menolak RUU Ciptaker untuk ditetapkan sebagai undang-undang,” tegas Johan. Politikus PKS ini mengkritik keras pengaturan yang terdapat dalam RUU Cipta Kerja yang menyebutkan bahwa impor pangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Pada ayat lain juga menyatakan, impor pangan pokok dilakukan untuk memenuhi konsumsi dan cadangan pangan dalam negeri,” tandasnya.

Bagi Johan, rancangan tersebut sangat berbahaya karena bertolak belakang dengan undang-undang eksisting tentang pangan, yakni UU No. 18/2012 yang telah menegaskan bahwa impor pangan hanya boleh dilakukan apabila produksi dalam negeri  tidak mencukupi dan atau tidak dapat diproduksi di dalam negeri.

“Saya tegaskan bahwa wujud kedaulatan pangan kita adalah tidak memiliki ketergantungan dengan impor pangan,” papar Johan.

“Jadi penolakan Omnibus Law ini bersifat sangat substantive karena berisi ketentuan yang menjadikan impor pangan sebagai prioritas dalam memenuhi ketersediaan pangan dalam negeri, berdasarkan pertimbangan tersebut maka sekali lagi secara tegas kita tolak pengesahan dari RUU omnibus law ciptaker ini,” ujar Johan.

Sayangnya, kalah suara. RUU Cipta kerja melenggang menjadi UU Cipta Kerja.

“Itu dia faktanya sekarang,  artinya berjuang untuk kedaulatan pangan masih panjang Bung,” katanya.

Kini,  anggota DPR RI/MPR RI yang ditunjuk PKS sebagai sekretaris FPKS ini masih terus berjuang, salah satunya untuk kedaulatan pangan.  Dalam kiprahnya sebagai politisi, tentu banyak ceritanya. Tapi yang paling nekat tentu ada.

“Saya pernah maju  sebagai Calon Wakil Gubernur berpasangan dengan sohib Suryadi JP pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur dari partai yang sama melawan petahana TGB tahun 2003 lalu,” ujarnya terkekeh. []

(Yons Achmad/Alumnikammi.org).

No comment for Sosok (4) H. Johan Rosihan, S.T : Pejuang Kedaulatan Pangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post to Sosok (4) H. Johan Rosihan, S.T : Pejuang Kedaulatan Pangan

Sosok (6) Nana Sudiana, S.IP., M.M Totalitas Aktivis Filantropi

Posted at 15/10/2021

“Beliau (Nana Sudiana) adalah aktivis filantropi yang berkecimpung dalam dunia pengelolaan zakat selama lebih dari 20 tahun, selamat untuk Anda dan terus berkarya untuk... Read More

Sosok (5) Mukhamad Shokheh, MA. PhD Sejarawan Muda Semarang

Posted at 06/10/2021

Putrane wong santri kudu tansah lunga ngaji Tansah lunga ngaji angudi ilmune Gusti Putra santri-putra santri, putra ulama Mangga para sepuh iki jamane wis... Read More

Sosok (3) Nuryanti Tadjudin SE.ME: Kadis Termuda Pemprov NTB

Posted at 03/10/2021

Jalan panjang harus  dimulai dari langkah pertama… Kata-kata itu terus digaungkannya. Sejak mahasiswa prestasinya cukup menonjol, dialah Nuryanti Tadjudin, sosok alumni KAMMI yang menjadi... Read More

Sosok (2) Suharsono, S.s, M.Si: Politisi Petarung Semarang Kota

Posted at 29/09/2021

  KAMMI merah. Itu julukan yang disematkan oleh beberapa kawan. Ya, KAMMI Semarang dikenal dengan penampilan lewat jaket  merah khasnya. Hanya, tak hanya dikenal... Read More

Dr. Kiki Yulianto, S.TP., M.P: Jadi Dekan Umur 25 Tahun

Posted at 27/09/2021

Wahai manusia.. Jangan engkau tertipu daya Oleh dunia yang fana Sebagai tempat ujian bagi kita Dunia sementara Akhirat selama-lamanya   Sebuah lagu yang dinyanyikan... Read More